Minggu, 18 September 2011

Wanita Arab Berbikini

Sebagai Pemimpin Redaksi Lilac, Yara Mashour mengambil keputusan yang sangat berani. Majalah Arab yang bermarkas di Israel itu menantang kebiasaan dan tradisi yang ada di Arab. Di sampul edisi majalah baru tersebut terdapat potret model perempuan berbalut bikini. 


Seperti dikutip dari Daily Mail, majalah tersebut menampilkan sosok Huda Naccache, model berumur 22 tahun keturunan Arab dan Israel asal Haifa yang berbalut bikini hitam dengan kemeja
putih tersampir di bahu, sorot mata sang model menatap tajam ke arah pembaca. 


Yara mengatakan, "Huda adalah model Arab yang pertama tampil berbikini untuk sampul majalah Arab. Selama satu dekade saya terus bekerja memperjuangkan kehidupan wanita Arab agar dapat memiliki lebih banyak hak dan kebebasan di Timur Tengah."    


Huda sendiri merasa bangga terpilih sebagai sosok yang di citrakan Lilac sebagai wanita kuat dan menakjubkan.  "Aku sangat bangga menjadi wanita yang pertama untuk (mengenakan bikini di sampul Lilac),"  katanya.  "Saya model profesional dan seharusnya ini dianggap normal."    


Meski begitu, Huda tak memungkiri awalnya dia ragu menerima tawaran itu. Ia sadar betul batas tabu dan norma masyarakat setempat. "Tapi, setelah meminta restu orangtua, saya jadi berani dan penuh percaya diri.  Saya tak takut menjadi gadis yang mengambil langkah pertama, dan membuka kesempatan model Arab lainnya, untuk mewakili wanita liberal dan independen Arab muda."


Kebijakan redaksional Lilac tersebut jelas mengundang kontroversi. Lilac adalah majalah pertama di Jazirah Arab yang mendobrak tabu. Ia berani menampilkan wanita berbikini pada sampul depan majalahnya. 


"Sejak saya mendirikan Lilac di Israel 10 tahun lalu, saya memecahkan tabu mengenai wanita di tengah masyarakat. Aku bekerja untuk pemberdayaan dan kebebasan wanita," kata Yara. "Saya ingin memulai konsep baru tentang wanita Arab yang berani mematahkan tabu sosial, dan menunjukkan kecantikan fisik mereka di depan umum."


Lilac, yang bersikap sekuler, menjadi majalah Arab paling populer di Israel dan dibaca di sejumlah negara Arab. Majalah wanita tersebut ditulis dalam bahasa Arab, dengan sisipan bahasa Inggris juga.  "Karena generasi baru dan muda lebih suka membaca bahasa Inggris," kata Yara. 


Yara berharap kebijakan dia akan memancing diskusi yang positif, bukan bencana. Ia sadar selama ini media di Arab tabu menampilkan bahu, lutut, dan punggung wanita apalagi wanita yang berbikini. "mungkin akan melakukan sensor dan melarang majalah ini beredar. Sejumlah negara Arab seperti Lebanon seharusnya tak membuat larangan, karena kupikir mereka sangat bebas."


.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar