Kamis, 24 Juni 2010

Memaafkan Adalah Karunia Terindah

Memaafkan


Kalau cinta memang bukan hanya dalam kata-kata, tentu tidak ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan! Orang yang mampu memaafkan hanyalah orang-orang yang punya cinta, Tetapi, orang yang punya cinta seharusnya tidak menyakiti atau menguji sesama dengan mengulang-ulang kesalahan yang itu-itu juga.(Joger, Bali)
Memaafkan bukanlah sebuah perasaan, tetapi sebentuk tindakan, sebentuk kemauan dari diri seseorang. Memaafkan adalah suatu mukjizat yang secara ajaib bisa dirasakan, tetapi tidak banyak di antara kita mampu melakukannya dengan mudah.
Anda mau memaafkan, pasti Anda bisa memaafkan. Anda tidak mau memaafkan, pasti Anda sendiri yang akan merasakan akibatnya karena memelihara ingatan dengan segala konsekuensinya yang membuat kita "sakit hati" atau "sakit pikir"
Memelihara dendam karena orang lain menyakiti hati kita adalah seperti menelan racun sambil berharap orang lainlah yang akan mati!
Lewis B Smedes dalam bukunya Mengampuni dan Melupakan mengajarkan bagaimana menyembuhkan "luka hati" yang tidak selayaknya kita terima.
Hasil penelitian dari sejumlah ahli jiwa di seluruh dunia menyimpulkan, bagaimana orang-orang yang memelihara "sakit hati" benar-benar menanggung akibatnya menjadi sakit organ hatinya (lever). Itu terdokumentasikan dengan baik tentang bagaimana para pasien kanker dan penyakit berat lain bisa mencapai kesembuhan hanya karena melepas amarahnya secara sadar dengan cara memaafkan orang-orang yang membuatnya "sakit hati" dan "memendam amarah" yang membuatnya menderita "luka batin".

Bagaimana kita menangani konflik dalam kehidupan yang membuat kita "sakit hati"? Sudah sewajarnya kita ingin membalas sikap yang menyakiti kita, itu manusiawi, wajar-wajar saja. Tetapi, perlu diingat kalau hal itu kita lakukan, berarti kita menyamakan diri sendiri dengan orang tersebut. Kita bergabung dengan segala aspek balas dendam yang tidak berujung, seperti menuangkan minyak ke dalam api, membahayakan semua orang termasuk diri sendiri.
Ajaran sang Buddha yang tertuang dalam kitab Dhammapada, yang isinya senada dengan kitab suci yang lain mengajarkan demikian. Lupakanlah, maka kebencian akan lenyap. Bukanlah dengan kebencian cara untuk mengalahkan kebencian. Tetapi, kebencian akan menjadi teduh karena cinta,
Itulah hukum abadi. Cinta dan memaafkan adalah dua hal yang saling mendukung untuk hidup damai sejahtera, sehat lahir batin.
Mukjizat ketika Memaafkan
Pemberian maaf mendapatkan keindahannya yang unik dari penyembuhan yang didatangkannya kepada semua jenis "sakit hati".
Memaafkan bukan berarti melupakan tindakan orang yang menyakiti kita, seolah-olah memaafkan harus satu paket dengan melupakan kejadiannya. Kita harus bisa memaafkan, tetapi bukan melupakan begitu saja sampai suatu hari kita merasakan hal yang sama yang diperbuat oleh orang yang sama.
Sebagian orang menyakiti hati kita karena mereka mengira kita layak menerimanya. Terkadang kita tidak tahu dengan pasti apakah kita menjadi korban dari kejadian yang tak terhindarkan yang menimbulkan sakit hati itu secara disengaja atau tidak disengaja oleh orang yang melakukannya pada diri kita.
Akan memunyai perbedaan yang sangat besar kalau kita mengalami "sakit hati", tetapi dengan kesadaran penuh kita menelaah masuk ke diri sendiri untuk bertanya, apakah saya pantas mendapat perlakuan yang menyakitkan itu. Atau memang kita mendapatkannya dari serangan yang memang orang lain lakukan dengan sengaja secara curang pada diri kita.
Kalau Anda menerima rasa "sakit hati" yang dilontarkan orang lain sebagai akibat dari perbuatan sendiri yang tanpa disengaja atau bahkan disengaja telah Anda lakukan, nasihat yang bisa diberikan adalah sebagai berikut.
Maafkan dan lupakan! Anda bisa hidup sehat dan sejahtera. Tetapi, kalau Anda menerima "sakit hati" yang berasal dari serangan curang seseorang yang memang dengan sengaja atau tidak disengaja perbuatannya membuat masalah yang berakibat Anda mengalami sakit hati.
Karena itu, nasihat yang bisa diberikan adalah tetap memaafkan, tetapi jangan beri kesempatan lagi padanya untuk menyakiti hati Anda!
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya berbuat hal yang sama pada Anda di kemudian hari.
Pemberian Maaf
Pemberian maaf bak melumasi roda-roda kehidupan ketika gigi-giginya mulai aus. Kalau pilihan waktunya tepat dan dengan maksud yang tulus, permintaan maaf yang manis merupakan sikap hormat kepada peradaban manusia. Tetapi, sebagian orang lebih mudah memberi maaf atas kesalahan yang orang lain lakukan terhadap dirinya karena banyak alasan. Biasanya yang paling kuno adalah karena sangat mencintainya.
Kita melihat bagaimana seorang istri atau seorang kekasih yang mendapat tamparan dari orang yang dicintainya hanya karena menegurnya untuk bertanya kenapa mereka dikhianati? Dengan segera bisa melupakan dan memaafkan tamparan yang mereka terima hanya dengan rangkulan mesra yang pura-pura.
Tetapi untuk memaafkan dirinya sendiri banyak orang yang tidak mampu melakukannya, dan membuat penyesalan yang tak berujung sepanjang hidup.
Memaafkan diri sendiri memerlukan keberanian yang besar, lagi pula apakah Anda berani membebaskan diri dari bayang-bayang kesalahan yang dilakukan pada hari-hari lalu?
Penulis mengajak pembaca untuk melihat dua kisah yang dialami seorang anak manusia yang dengan susah payah meneruskan hidupnya untuk menghapus ingatan yang membuatnya merasa bersalah dan mencoba memaafkan dirinya sendiri. Orang itu bercerita bagaimana sampai sekarang bayang-bayang kesalahan itu tidak pernah pergi dari ingatannya sebagai tanda dia belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Demikian kisah orang itu, tiga puluh tahun lalu ketika neneknya yang berumur 80 tahun sudah dalam kondisi pikun ribut di pagi hari yang sibuk untuk mencarikan penumbuk sirihnya. Penumbuk sirih itu adalah barang antik kesayangannya yang dia dapatkan secara turun-temurun dari nenek moyangnya. Tetapi, karena orang itu harus sekolah dan hari itu ada kegiatan penting yang membuat dia stres, dengan ketus dia mengatakan, "Tidak ada waktu untuk mencari barang antik nenek, nanti saja kalau pulang sekolah, akan saya carikan."
Tetapi, apa yang terjadi? Pada jam istirahat kesatu, datang orang dari rumah untuk menjemputnya pulang karena neneknya sudah meninggal. Apa mau dikata, sudah terlambat untuk mencarikan barangnya. Yang dia tahu persis, kalau mau meluangkan waktu sedikit saja, dia bisa menemukan barang tersebut untuk diberikan pada neneknya, dan membuatnya meninggal dengan tenteram.
Kejadian kedua orang tersebut berkisah demikian. Dia memunyai adik perempuan satu-satunya, bungsu di antara tiga bersaudara. Kejadian 12 tahun lalu tepat di ulang tahun adiknya. Dia membelikan kado berupa gaun dan cokelat kesenangan adiknya tersebut. Karena sang adik tinggal di Bali sementara dia di Jakarta, kado itu pun tidak jadi dipaketkan dengan pertimbangan "buat apa buang-buang uang untuk ongkos kirim".
Dia berpikir, kado itu akan diberikan kalau adiknya pulang pada hari Natal yang akan tiba sebentar lagi. Tetapi apa yang terjadi? Tepat di malam Natal, adik orang itu mengembuskan napas terakhir di Bali tanpa memberi kesempatan padanya untuk melihat, apalagi memberi kado yang sudah dirancang dan dibungkus dengan indah.
Sampai saat ini, orang itu sulit menoleransi dirinya sendiri. Apa yang menyebabkan dia waktu itu untuk menghemat uang ongkos kirim paket yang nyata-nyata dia mampu untuk membayarnya. Dia begitu menyesal dan menyalahkan diri terus-menerus.
Memaafkan Diri
Tidak bisa memaafkan diri sendiri tetapi yang disalahkan orang lain. Itu ibarat terjatuh sendiri, tetapi menyalahkan teman seperjalanan.
Kita lihat kisah semacam itu demikian. Seorang pejabat yang bermasa depan sangat cerah dengan jabatan yang sedang menanjak dan terkenal sebagai orang "bersih nan suci" dan sangat berkarisma. Yang dimaksud di sini adalah seorang laki-laki yang berhasil menjalani hidupnya dengan mulus tidak pernah melirik perempuan lain karena merasa puas dengan satu istri, juga tidak pernah korupsi.
Pokoknya di lingkungan hidupnya dia dikenal sebagai orang yang bersih tuntas yang menjadikannya bersikap arogan karena merasa tidak bercela. Apa mau dikata, dalam perjalanan hidup seseorang bisa saja terjatuh, dan yang dialami laki-laki itu adalah dengan segala kebersihan dan kesuciannya dia jatuh cinta lagi pada seorang wanita biasa yang kebetulan istri orang.
Seiring dengan jalannya waktu, rupanya keduanya sama-sama jatuh dan terjadilah hubungan yang seharusnya tidak dilakukan, tetapi mereka melakukan sampai puluhan kali. Sampai suatu saat sang laki-laki baru terkejut dan menyadari akan apa yang diperbuatnya, hal itu membuat dia sangat membenci sang wanita yang dia tuduh sebagai penyebab dari aib yang dirasakan dalam jalur kehidupannya yang bersih.
Secara jujur di hatinya dia menyadari telah berbuat salah dan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah membuatnya merasa sangat bercela (kotor). Yang paling ditakuti sekarang sudah tidak bersih lagi dan "rapor ketidakbersihan" itu dipegang sang wanita yang membuatnya merasa saat ini kekuatannya menjadi "berkurang" karena ada orang yang memegang kartu "AS"-nya.
Hal tersebut membuat perasaannya tidak senyaman dulu lagi dan semakin dia menyadari hal tersebut, semakin pula dia membenci sang wanita.
Dari kisah itu bisa kita menarik kesimpulan bahwa memaafkan diri sendiri itu sangat sulit. Jadi kalau kita memaafkan, kita harus bisa melampaui hukum normal yang mengikat kita pada hukum alam "sebab akibat" dengan zat cinta pada diri sendiri. Sehingga, kita akan mampu melakukan pemaafan itu dan membebaskan diri kita dari masa lalu yang menyakitkan. Kita terbang melampaui moralitas penyalahan diri supaya bisa menciptakan masa depan baru dari ketidakadilan masa lalu. Kita membebaskan jiwa kita dari kesalahan yang dilekatkan pada riwayat hidup kita.
Memaafkan diri sendiri dan membebaskan diri dari rasa bersalah sangat memerlukan keberanian dan keteguhan hati. Kita akan memulainya untuk bisa keluar dari bayang-bayang masa lalu dengan membuat skenario baru untuk naskah hidup kita selanjutnya. Kita perlu memaafkan diri sendiri, seperti layaknya kita memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita, tetapi orang tersebut sudah meninggal.
Jadi tidak ada lagi harapan apa pun dari orang tersebut karena sudah tidak ada. Memaafkan tidak mengubah fakta dari masa lalu kita. Klimaks dari pemberian maaf adalah hal itu akan datang setelah kita merasa bersatu kembali dengan diri sendiri secara utuh.
Kita menyadari telah berbuat kesalahan dan tidak punya daya dan kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan itu, dan ada semacam perjanjian yang hanya diri kita sendiri yang mengetahui bagaimana kita berjanji tidak akan mengulanginya dan akan menjalani hidup baru dengan cara berpikir baru untuk meraih pengampunan yang diberikan oleh diri sendiri yang menjadikan kita hidup lebih baik.
Memaafkan diri sendiri adalah mukjizat penyembuhan yang tuntas atas kehidupan itu sendiri. Bisa memaafkan adalah karunia yang terindah dalam hidup seseorang, baik itu memaafkan diri sendiri maupun memaafkan orang lain.

Semoga Artikel yang saia posting di blog doni ini bermanfaat,terima kasih..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar